News Ticker:
Home » , » UN, POTONGAN KECIL KEGAGALAN SISTEM PENDIDIKAN

UN, POTONGAN KECIL KEGAGALAN SISTEM PENDIDIKAN

Oleh: Andhika Putra Dwijayanto, alumni DKM TM 2011

Secara frontal, biar kukatakan bahwa aku sama sekali nggak suka UN dan aku menolak keberadaannya.

Well, mungkin masih mending kalau UN tetap diadakan tapi bukan sebagai penentu kelulusan. Tapi faktanya kan nggak begitu. UN jadi standar bagi kelulusan seseorang dari sekolahnya. Nggak lulus di satu mapel, tamat. Harus ngulang lagi tahun depan, atau kalau nggak ya ngambil paket C. Opsi-opsi itu sama-sama bikin siswa merana.

Aku nggak ngerti kenapa pemerintah masih ngotot mati-matian mempertahankan keberadaan UN. Apa sih pengaruh positif yang didapat? Mental siswa yang terbebani? Guru dan kepsek yang terlibat tindakan curang supaya murid-muridnya lulus? Atau apa? Fakta membuktikan bahwa tiap kali menjelang UN, semua pihak yang terlibat dalam KBM akan menjadi pusing ratusan keliling.

Kalau dari pihak siswa, hari-hari menjelang UN itu sudah seperti senam jantung saja. Sehari-hari diberi bimbingan seharian di sekolah, bahkan ada yang sampai ikut bimbel tambahan di luar. Belum lagi latihan ratusan soal tiap harinya. Itu belum seberapa, daripada kekhawatiran nggak lulus karena nggak mampu melewati UN dengan baik, seenggaknya melewati batas minimal. Saking paranoidnya akan nggak lulus ini, yah.. tahu sendiri lah. Itu jadi pembenaran buat melakukan tindakan kecurangan pas UN.

Pihak sekolah mungkin lebih stres lagi. Berusaha supaya murid-muridnya bisa pada lulus, segala cara ditempuh. Mulai dari membebani semester terakhir dengan persiapan UN, yang artinya materi di kurikulum dipadatkan sampai-sampai bikin para siswa stres, sampai turut serta membantu terjadinya kecurangan pada pelaksanaannya. Ada yang bongkar soal terus ditandai soal-soalnya dengan jawaban, ada yang nyebarin kunci jawaban lewat BBM, SMS, dan apalah itu sejenisnya, turun langsung nyebarin kunci jawaban pas ujian listening Bahasa Inggris, sampai nanyain para siswa buat mastiin mereka udah dapat kunci jawaban atau belum. Hadeeehhh!!

Nggak ada gunanya soal UN dibikin 20 paket. Ungkapan ‘Maling selalu lebih pintar daripada polisi’ itu memang benar adanya. Tetap saja ada cara licik untuk membongkar apa kunci jawaban dari soal-soal itu. Bahkan, bisa jadi ada kongkalikong antara pihak sekolah dengan pengawas, untuk mempermudah siswa bertindak curang. Ini jadi kegalauan sendiri buat pada guru, utamanya guru yang sejak awal punya mental jujur.

Lagian, mengacu pada konsep yang sudah basi dan sudah banyak sekali dibahas sampai-sampai sebagian orang bakalan bosan dan menganggap ini terlalu mainstream (herannya masih kubahas aja), UN memang nggak adil. Hei, coba saja kalau seorang siswa yang lolos Olimpiade Fisika tingkat Internasional harus gagal lulus dari SMA cuma gara-gara nggak bisa Bahasa Inggris? Atau siswa yang hampir sekarat kalau dipaksa belajar Kimia tapi di Biologi dia jadi dewa, harus batal lulus gara-gara nilai UN biologi di bawah standar? Adil nggak? Buatku sih sama sekali NGGAK.

Lagian kalau UN doang yang dipake nilai seorang siswa layak lulus atau nggak, memangnya aspek dalma diri siswa cuma nilai kognitif doang? Gimana nilai kejujuran siswa? Keberanian? Moral? Dan sebagainya? Apa itu nggak masuk hitungan? Nggak heran, banyak yang lulus dengan nilai tinggi di UN yang nantinya jadi worthless people, nggak guna. Lah wong yang dinilai cuma satu aspek doang. Jadi masa bodoh kalau tuh orang punya kelakuan kayak berandalan, mafia, doyan nge-bully, lulus gara-gara curang, itu nggak ada urusan. Yang penting lulus, dan nilainya bagus.

Kelihatan kalau pemerintah memang nggak serius dalam menangani masalah pendidikan ini. Sudah dari kurikulum yang sekuler dan menghasilkan siswa lulusan SMA yang tidak kreatif, minim softskill, PPN (Pada Pencari Nilai), serta jauh dari pemahaman Islam secara menyeluruh, dalam pelaksanaan ujian pun, terjadi kecacatan di sana-sini yang justru makin merusak pendidikan itu sendiri. Belum kalau bicara kelakuan anak-anak yang doyan melakukan kebiasaan idiot berupa corat-coret merayakan kelulusan, bukti lain bahwa sistem pendidikan negara ini gagal. Gagal dalam membentuk siswa yang memiliki syakhsiyyah Islam dan memiliki pemahaman terhadap ilmu pengetahuan (bukan hafalan atau nilai).

Kalaulah sistem pendidikan Islam yang diterapkan, hal-hal seperti itu jelas nggak perlu terjadi. Islam membentuk seorang siswa untuk memiliki syakhsiyyah (kepribadian) Islam yang kuat, selain menguasai sains dan teknologi. Negara bertanggungjawab terhadap terlaksananya pendidikan ini, supaya bisa terlaksana dengan baik, mulai dari kurikulum sampai penyediaan fasilitas penunjang, baik fisik maupun non-fisik. Nggak heran, ketika zaman Khilafah dulu, ketika sistem pendidikan ini diterapkan, Khilafah menghasilkan banyak sekali ilmuwan yang luar biasa. Bukan cuma menguasai saintek sampai mendahului zaman, tapi juga memiliki kepribadian Islam yang berkualitas tinggi. Jadi, mereka nggak cuma bagus di ilmu sains doang, apalagi cuma nilai belaka (yang sangat gampang dimanipulasi).

UN cuma satu bukti kecil lain tentang kegagalan pemerintah mengatur urusan rakyatnya. Menghapuskan UN doang nggak bakal menyelesaikan masalah pendidikan saat ini. Kalau mau bener, ya hapus sistem pendidikan sekarang dan ganti dengan sistem pendidikan Islam. Masalahnya, apa mungkin sistem pendidikan Islam bisa diterapkan di sistem sekuler sekarang ini? Mustahil, perlu mengganti sistem sepaket dengan sistem utamanya, yang merupakan biang kerok dari kerusakan-kerusakan sistemik lainnya, dengan sistem Islam secara menyeluruh. Dengan begitu, baru permasalahan pendidikan kacau kayak di zaman sekarang bisa diatasi.

Yogyakarta, 18 April 2013
Kepikiran buat mengkritik setelah dengar modus-modus kecurangan UN tahun ini dari adik kelas
Share this article :

0 komentar:

Baca Juga

LOMBA PENULISAN (JANUARI)

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Forum Alumni DKM Talimul Muta'allim - All Rights Reserved